Chapter 2 : Oh, Poor my college!
Sepanjag perjalanan pulang aku masih belum bisa melupakan rangkaian hal yang kulalui hari ini. Sesi wawancara yang kupikir tidak memakan waktu lama justru menyita waktuku terlalu banyak. Aku baru keluar kampus pukul lima sore. Eca menungguku di lobby karena dia yang lebih dulu keluar ruangan. Ia sangat sabar padaku dan teman=temannya itulah yang membuatku senang berteman dengannya. Kami keluar dengan rasa lapar yang menuntut dipuaskan. Aku menyarankan agar kami makan mie ayam terlebih dulu di kantin samping gedung FIS. Tapi ia menolaknya dan memilih segera pulang. Aku berjalan di sampingnya dengan botol air mineral yang nyaris habis isinya. Langit sore makin gelap dan kami memutuskan naik busway. Aku sudah mewanti-wanti dalam hati bahwa jam seperti ini adalah waktu yang kritis kami tidak akan kebagian busway. Jam pulang kerja yang ramai diikuti deru mobil berhembuskan asap. Kami menyebrang ke salah satu halte dan baru mendapatkan bus setelah menunggu dua puluh meniti. Di...