Chapter 1 : First sight

I Love Night, Because It has full of stars



Malam ini, tepat di tanggal 26 di bulan kesembilan aku menyusun kisahku dalam laman pribadi virtual. Aku baru menyelesaikan bakso kuahku sesaat sebelum menuliskan kisah ini. Selama mengunyah bola-bola itu aku memikirkan seseorang. Aku memikirkan salah seorang seniorku di kampus yang kebetulan dia juga adalah fasilitatorku selama di awal bangku kuliah. Pagi ini berbeda karena aku pikir ia akan berdiri di muka pintu kelasku sebelum kelas Kartografi selesai. Tapi ternyata dia tak ada disana, bukan karena sakit atau apa tapi lebih kepada dia tidak menempati kelas yang sama denganku.


Kenalkan, aku adalah satu diantara 6000 mahasiswa baru di salah satu universitas negeri pencetak guru dan pendidik di negeri ini. Terhitung satu September aku memulai kuliah perdana disini. Tiga bulan menganggur aku lebih banyak menghabiskan waktu mengurus urusan administrasi dan kegiatan rumah seperti yang sudah setiap gadis lakukan. Rasanya menyenangkan bisa menghabiskan waktu selama itu hanya dengan mendekam di rumah. Apalagi aku tidak benar-benar kesepian karena satu rak buku tinggi menjulang di rumah setia memilihkanku buku bacaan menarik untuk tetap bertahan di rumah. Rak itu berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. 

Aku mengakui kepribadianku sedikit aneh. Aku bisa hidup di dua tempat dan aku berada di dua dunia yang berbeda. Akan kuceritakan lain waktu jika diriku sudha siap mengatakannya. Kehidupan keluargaku cukup baik, ada kasih sayang yang tulus disana dan juga pamrih dan keraguan sekaligus menelimuti tiap jengkal sudutnya. Setiap malam dan hampir di setiap detik aku menghitung mundur waktu keberangkatanku menuju kampus yang letaknya di Rawamangun itu. aku sangat ingin segera pergi dan meninggalkan rumah. Meninggalkan tembok besar penghalangku dengan dunia luar dan tak ingin lagi menoleh ke belakang. 

Setiap malam, sebenarnya tidak setiap malam juga tapi hampir setiap malam aku membuka grup obrolan di whatsapp melihat kalau kalau ada perkembangan baru untuk kami mahasiswa baru. Ada sejumlah senior  yang memasukkan nomor ponsel kami dan membentuk satu grup angkatan. Aku memanggil mereka dengan sapaan ‘kakak’ karena kupikir sudah sepantasnya memanggil mereka dengan sapaan begitu. Banyak sekali senior disana, waktu awal dibentu memang baru beberapa saja yang aktif menyapa. Ada Lutfia yang aktif menyapa grup, sesekali seseorang bernama Revan muncul lalu menghilang lagi dan salah seorang senior bernama Irfan yang paling rutin memberikan informasi dan menyapa setiap kali anggota baru hilir mudik bertanya tentang segala sesuatu. Irfan Rifai akhirnya aku mengetahui nama lengkap senior yang satu itu. 

Irfan, yang ada di kepalaku setiap kali melihat dia aktif bercengkrama di grup adalah ia selalu menjadi pusat perhatian semua orang. Pertanyaan penting maupun tidak penting dari para maba-julukan untuk mahasiswa baru dijawab olehnya. Irfan Rifai, menurutku dia terlalu baik untuk seorang senior yang notabenenya tidak kami kenal, tidak pernah kami temui. Aku merasa jahat karena selama 3 bulan itu aku terus menerus melihatnya disana di satu grup yang sama denganku, bertanya-tanya dalam hati bagaimana rupanya  (aku benci di buat penasaran dan terisolir dengan siapa aku bicara) dan namanya selalu terpampang di notifikasi ponselku membuatku bosan. Aku membencinya, separuh diriku berharap kelak ia akan pergi dan aku tak akan pernah bertemu dengannya bahkan di dunia nyata pun rasanya aku tak sudi menyapanya. 

Beberapa kali aku mengajukan pertanyaan di grup, dan dia (Kak Irfan) menjawab pertanyaanku. Aku suka dengan gaya bicaranya yang lembut, aku bisa merasakan dia orang yang ramah tapi separuh akal sehatku mengatakan aku membencinya. Aku merasa dia seperti pria berhati wanita, terlalu lembut dan terlalu baik. Aku berprasangka bahwa aku sedang dalam mood yang kurang baik ketika aku menerima jawaban atas pertanyaanku. Aku tidak pernah puas dengan jawaban yang ia beri. Dia juga mudah sekali teralihkan ke maba-maba lainnya yang ikut-ikutan bertanya setelah aku. Alhasil aku yang semula menginginkan dia hanya terpusat padaku malah jadi geram dan makin membencinya. Aku bersumpah tidak akan mencari-cari perhatian atas dirinya lagi. Aku seperti nyamuk di grup itu, silent reader, memilih bungkam. Karena kau tahu tiap kali aku angkat bicara tidak ada satupun yang memperhatikan aku. Terlebih kak Irfan kakak tingkatku sendiri kemungkinan besar tidak aka menggubris satupun ucapanku di grup. 

Kuliah belum dimulai tapi kebencianku muncul tak tertahan. Aku benci grup whatapp angkatanku yang begitu sepi dan menganggapku seolah tidak pernah ada. aku membenci kakak tingkatku yang selalu tidak punya jawaban detil tentang tanggal pasti rangkaian proses penerimaan mahasiswa baru. Aku bahkan baru tahu ada yang namanya NALFISOSRATA dan PKMP setelah sesi wawancara. Ah, apa aku mengundurkan diri saja dari universitas ini. Kedua orangtuaku juga berulang kali menanyaiku untuk tetap lanjut untuk kuliah di kampus itu atau tidak. Aku terlalu malas berpikir dan memilih tetap melanjutkannya, berdebat dengan orangtua jadi salah satu hal paling kubenci di dunia ini. Mereka selalu merasa benar dan aku salah.

Sampai suatu ketika aku mendatangi kampus itu untuk sesi wawancara. Aku tidak sendiri berangkat kesana. Tangerang cukup memakan waktu hingga tiga jam jika dilakukan perjalanan sendirian. Aku bersama Eca, yang juga mendapatkan program studi yang sama denganku. Kami berangkat dengan angkutan umum dan bertemu diterminal Blok M yang tak pernah mati. Aku sangat sedih membuat ia menunggu terlalu lama. Aku menyesali ajakannya untuk berangkat bersamaku dan malah membuatnya menunggu.
Aku merutuk pada rangkaian wawancara hari itu. wawancara yang dimaksud bukan hanya wawancara tatap muka semata, tapi seperti bermain singgah dari pos ke pos untuk mengetahui seluk beluk dunia kampus terutama tentang apa itu Badan Eksekutif Mahasiswa Prodi dan keseharian para anggotanya saat berorganisasi. Aku ingin sekali membullshitkan tiap panitia yang menyusun acara itu. Aku tidak datang ke kampus hari itu hanya untuk diceramahi tentang kegiatan organisasi mereka. Setidaknya belum, karena aku tertekan dengan jarak tempuh dan waktu kapan aku akan pulang dan sampai di rumah. Wawancara hari itu seperti tidak ada gunanya dan hanya membuang waktuku saja. Permainan pos ke pos yang mengarahkan kami para maba-maba polos ke tiap ruangan dan meja mana yang harus kami duduki membuatku muak dan ingin segera pergi dari kampus ini. BEM Prodi berhasil membuatku lelah dan mencap buruk gedung kampusku sendiri. 

Aku sempat bertemu dengan senior bernama Irfan itu sesaat setelah sampai di pos terakhir yaitu meja Advokasi. Dia ada disana, duduk di bangku kedua di sebelah seorang gadis periang yang kutahu dia adalah kak Lutfia yang sering kutemui digrup Whatsapp. Dia, kak Irfan entah bagaimana aku harus menyebut namanya sangat berbeda dengan yang aku bayangkan. Dia begitu mungil, berminyak dan berisi untuk tubuh sekelasnya. Wajahnya cokelat gelap seperti warna tanah, tapi menyiratkan kehangatan dan kesopanan yang tiada tara. Dia menawariku untuk berjabat tangan tapi dengan ramah kucoba menolaknya, entah karena aku sudah lelah dan malas berbasa-basi yang pasti bukan karena jijik melihat wajahnya. Aku menjabat tangan kak Lutfia dan sebisa mungkin tersenyum menutupi wajah lelahku.
Dia, Kak Irfan senior yang kubenci bahkan sebelum aku melihat wajahnya kini berada tepat duduk di depanku. Ia menatapku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tatapannya tidak menyelidik tapi aku berusaha menahan rasa risihku diperhatikan olehnya. Aku tahu ia menilai gestur tubuhku, 

mendengarkan intonasi suaraku dan menyimak dengan dalam ceritaku dan keenggananku tentang uang kuliah per semesterku. Aku tahu kehadiran mereka dihadapanku saat ini memang tidak bisa mengatasi masalah yang memenuhi pikiranku. Aku berusaha menyembunyikan nada keputusasaanku dan semua keputusan yang telah aku ambil di hadapan mereka. Terutama dihadapan pria satu-satunya yang sejak awal tidak lepas memperhatikanku.

Aku membenci diriku, aku membenci keputusan yang telah kuambil, aku membenci kampusku dan semua yang ada didalamnya baik itu organisasinya maupun kakak tingkat yang memiliki nama belakang sama denganku. Aku bersumpah tidak ingin melhatnya lagi dan menjauh sejauh mungkin darinya. Melihatnya menatapku dengan bibirnya yang tebal dan rambut klimisnya berbalut pomed membuatku tidak tahan berlama-lama disana. Andai pria bernama panggilan Kak Irfan itu lebih tinggi dan berwajah lebih bersih dari yang kulihat saat itu, aku ingin sekali mengecup rahangnya yang keras dan membelai pipinya lembut.

Perlu kalian ketahui, aku memutuskan tetap mengikuti masa kuliah di kampus mantan IKIP Jakarta itu dan bersabar menghadapi tantangan yang ada. jadi kalian bisa mengikuti kisah keseharianku lainnya di blog ini tiap senin malam. 

Untukmu Kak Irfan, kau akan ada dalam ceritaku berikutnya. Karena kaulah alasanku menulis jurnal perasaan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta :

Chapter 3 : Berjalan Layaknya Maba

Chapter 4: Kisahku Di Nalfisosrata