Chapter 3 : Berjalan Layaknya Maba
"Moving on is simple, it's what we leave behind that's hard."
Aku mengamininya, tapi rasanya kata-kata itu sulit sekali untuk dilakukan.
Sebulan berlalu setelah aku resmi ditetapkan sebagai mahasiswi UNJ kampus yang katanya "kampus hijau". Aku tidak megerti kenapa kami disebut mahasiswa. Kata pembicara-pembicara yang naik mimbar saat kami dikumpulkan di satu tanah lapang yang besar kami adalah Agen of Change. Kami adalah Iron Stock yang nanti pada masanya akan menggantikan pendahulu kami, senior-senior yang telah mengukir sejarah kampus kami untuk berbakti demi negeri. Tapi pasalnya kami ini hanya pelajar, aku adalah pelajar, dan aku terbuang.
Sudah tradisi di jurusanku untuk menghadiri kegiatan luar ruang bernama Nalfisosrata. Aku tidak tahu angkatanku sudah jadi rangkaian yang keberapa, tapi sepertinya Nalfisosrata ini sudah lama ada. Nalfisosrata adalah akronim dari "Pengenalan Fisik, Sosial & Ramah Tamah". Mereka yang mengikuti kegiatan ini akan dibawa menuju satu tempat di luar ibukota untuk dijadikan ajang temu senior dan mengenal medan di alam terbuka. Kegiatan yang memakan waktu dan menguras uang ini tidak hanya merepotkan peserta tapi panitia. Aku bisa melihat wajah-wajah lelah dan keras bagaikan bongkah batuan beku saat aku melihat wajah kakak-kakakku yang menjadi panitia. Aku akan menceritakan cerita perjalananku nanti.
Nalfisosrata angkatanku diadakan pada 7-9 Oktober 2016. Pesan pemberitahuan berkeliaran sejak H-30 acara. Grup cukup dibuat berisik dengan masuknya anggota BEMP terutama di bagian kaderisasi dan seksi acara. Mereka tidak bosan untuk mengingatkan barang bawaan dan hal-hal yang perlu kami lakukan sebelum hari besar itu tiba.
Waktu terasa begitu cepat menggiring kami menuju Nalfisos. Padahal yang aku rasakan baru saja beberapa waktu lalu diadakan Pendidikan Karakter bagi kami mahasiswa baru. Rasanya belum lama aku mengenali wajah teman-teman satu jurusanku. Jujur mengingat wajah mereka saja sudah cukup memusingkan belum lagi mengingat nama mereka yang beragam dan intensitas pertemuan kami yang sangat jarang. Waktu terasa panjang namun cepat sekali berlalu, dan aku mulai menginginkan untuk segera lepas dari kampus hijau ini.
Sebelum Nalfisos ada cukup banyak kegiatan yang aku lalui. Aku mengikuti Masa Pengenalan Akademik, Pendidikan Karakter tingkat Fakultas dan Program Studi, dan mengikuti banyak sekali seminar. Di saat pendidikan karakter tingkat fakultas, aku bertemu dengan mahasiswa lainnya dari prodi (program studi) Humas. Mereka tampak ceria sekali, berbeda dengan teman satu jurusannku yang kalem dan tidak banyak mencuri perhatian. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok kecil dengan tugas-tugas yang harus kami kerjakan. Salah satu teman satu kelompokku yang juga berasal dari jurusan yang sama denganku berinisial DPP. Aku memanggilnya Dimas dean saat itu aku masih lupa-lupa ingat yang mana sosoknya. Ia sangat kecil sampai-sampai aku harus menunduk sedemikian dalam agar bisa melihatnya. Apa aku serius mengatakan itu? Tentu saja tidak, aku mengaguminya. Dan aku tidak memiliki perasaan yang lain melebihi hal itu. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa antara aku dengannya. Ya, setidaknya untuk saat ini.
Masa-masa sebagai maba membuatku harus pulang pergi Tangerang-Jakarta untuk mengambil keperluanku selama indekos. Aku tidak bisa bergantung selamanya pada orangtuaku, aku memutuskan pergi. Walau jarak Jakarta-Tangerang tidak seberat tawaf atau wuquf di Arafah, tapi itu merupakan perjalanan yang melelahkan. Aku sempat bertemu ALvin sesaat sebelum turun dari halte. Lemari lipat yang kubawa cukup berat dan sedihjnya ia tidak tergerak untuk membantuku membawakannya hingga ke tempat kosku. Aku berjalan lagi dan ia telah pergi.
Saat hari pertama Pendikar aku datang terlambat, saat kumpul hari pertama mahasiswa baru pun aku terlambat. Aku menambah catatan kemalasanku dengan datang terlambat di hari wawancara mahasiswa baru. Ah, jangan tiru kebiasaan ini. Aku tidak seperti ini dulunya, dulu saat aku masih bersama orangtuaku. Sesuatu mengubahku, sesuatu merasup dalam benakku hingga rasanya langkah kakiku tidak bersemangat di sekolah baru; Orangtuaku, maafkan aku.
Di satu bulan pertama aku tidak sadar bahwa aku tidak menyatu dengan kampus ini. Sesuatu mengganjalku hingga membuat semangat, motivasi dan impian yang sudah kurencanakan buyar begitu saja. Sifat malasku makin menggila, deguo jantungku semakin tidak karuan. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku seperti sedang jatuh cinta dan tertekan dalam waktu yang sama. Aku menyadari seseorang yang baru lagi dalam hidupku, menyusup dalam jam makan malamku.
Wahai Dimas Sang Pangeran Idealisku, kupastikan kisah berikutnya adalah tentangmu.

Komentar
Posting Komentar