Cinta :
Jangan kira melihat aku bercerita tanpa habisnya
tentang Dimas membuatmu menarik kesimpulan bahwa aku selalu mencari seluk beluk tentangnya.
Tidak, kau salah. Ketika aku memasuki semester pertama sekolah menengah aku memang melakukannya pada kakak tingkatku. Tapi kini tidak lagi. Aku melihat
kegiatan stalking seperti itu
kini hanyalah kesia-siaan.
Aku berhadapan dengan orang-orang yang sangat asing. Datang dari seluruh daratan dan berada dalam satu sekat sama yaitu kampus. Mencari-cari tahu tentang minimal satu dari mereka akan menuntunmu
pada masalah. Pada masa lalu yang mereka tutupi dan masih
menggendongnya tanpa kau sadari.
Ketika aku tahu
Dimas lah laki-laki pertama
di kelas kami yang
membangkitkan gairah
keingintahuanku tentangnya. Kami
bicara saat duduk berhadapan di perpustakaan lalu rasa nyaman membuatku ingin terus
mencari kesempatan berdekatan dengannya. Tidak apa jika tidak saling bercengkrama, asal di ada di dekatku aku sudah senang
sekali. Bahagia setinggi awan.
Aku mencari tahu segala tentang Dimas dari semua media yang mengarahkanku pada setitik informasi tentang dia. Dari twitter aku tahu orang-orang mengucapkan selamat ulang tahun padanya di hari kedua puluh dua di bulan Desember. Aku tidak menambahkan dia dalam pertemenan Facebook-ku. Khawatir ia akan segera
tahu aku ingin mendekatinya
lebih jauh. Padahal Facebook lebih akurat untuk nedia pendekatan lawan jenis. Ternyata sumberku saja sudah
salah. Keputusan tidak berteman
di Facebook dengannya
membuatku sangat malu. Ia lahir di hari ke dua puluh
enam di bulan Februari. Ia sudah memberi tanda padaku bahwa ia berulang tahun di bulan Februari tapi itu sudah sangat lama hingga aku tak sadar maha tidak ingat. Ia memberi tanda tapi aku bodoh tidak menangkap jelas kata
itu. Februari, maafkan aku karena telah menyebutmu Desemberian.
Tapi dari pencarian itu aku tahu ia tidak sekuat dan seceria yang aku duga. Ia menyimpan
luka yang tenang dan damai
walau itu masih menyakitkan
untuk sebagian orang. Seorang pria tegar menahan mimpi dan hasrat
karena ia tahu lebih dari itu ia satu-satunya tumpuan keluarga. Ia adalah
pria yang diharapkan.
Aku menjalani hari-hari duduk paling belakang. Menatap sekitarku, mencuri-curi pandang apa yang tengah
dipikirkannya. Ia seperti gunung es di musim semi tetap bersinar membawa angin rindu bercampur kehangatan.
Delapan bulan
mampu mengubahnya begitu drastis. Bermula dari betapa penting sosoknya
dalam hal penugasan mata kuliah dan diskusi kelas. Seolah-olah ia naik
kedudukan menjadi seseorang yang dicari dan dibutuhkan hal-hal kecil yang kukagumi darinya memudar. Ia masih baik
hati dan jujur seperti dulu, tidak berubah. Namun, menjadi genit pada gadis-gadis imut
nan cantik di kelas kami? Bisakah kukatakan hal itu bukan sesuatu yang menarik untuk ia tonjolkan kepada kami sekalipun itu
hanya guyoanan? Ilfeel and disgusting,
Belakangan aku
tahu ia menekuni musik hadroh
selama beberapa bulan. ia
juga memasang nada adzan dan sholawat di ponselnya. Kelas Landasan Pendidikan jadi simpatik dan
kagum pada keputusan-keputusan kecil yang dibuatnya. Begitu juga
aku. Sampai-sampai menatap wajahnya saja aku merasa tak
pantas.
Sungguh, aku
bahagia jika melihatnya
bahagia. Tapj bukan juga maksudku ingin menggunjingi atau meracuni pikirannya dengan kritik-kritik seperti ini. Aku hanya tidak ingin Dimas kehilangan sifat baik dan prinsip teladan yang telah ia miliki. Aku tak ingin ia menggoda
wanita seolah ia bisa menguasai semua diantara kami. Apakah perbuatan dan keputusanku mengatakan ini bisa disebut
cinta? salahkah aku jika aku peduli? Aku tak tahu. aku masih terlalu kecil untuk bicara cinta. yang aku tahu adalah aku ingin mendukung Dimas dari belakang. Aku tidak ingin kehilangan dia
sama seperti aku kehilangan
mereka yang pernah singgah di hidupku dan muak dengan sikapku yang berlebihan.
Komentar
Posting Komentar