Jalan-Jalan : Hari Jadi TNI AU 71



Langit masih gelap ketika ponselku meraung- raung memaksaku bangun. Itu baru pukul empat pagi, ibu penjaja warung makan sebelah belum membuka tirai dan aku mendahuluinya. Bagus sekali, setelah melek beberapa menit dan usaha panjang merangkak turun dari ranjang aku tahu sudah waktunya bergegas. 

Aku menunda kepulanganku ke rumah bapak ketika mendengar kabar akan ada perayaan hari jadi Tentara Nasional Indonesia. Acaranya diadakan Minggu pagi berbarengan dengan kegiatan rutin Car Free Day. Sempat ada keraguan antara lebih baik aku pulang atau mengikuti kegiatan parade hari jadi itu. Toh tidak ada tiket yang harus dibayarkan karena acara ini gratis.Dan tahun ini firasatku mengatakan akan jadi yang paling meriah juga terhebat dari tahun-tahun sebelumnya. 

Tidak ingin bangun terlambat dan ingin menghindari macet menuju LanUd Halim, aku tidur lebih awal dengan perasaan tidak sabar. Aku ingin malam segera berlalu dan menyambut pagi dengan hati riang. 

Tubuhku melesat secepat angin, air di pagi hari membuatku lebih bergairah dan tak ingin terjebak di dalamnya lebih lama. Beruntung aku masih memiliki sisa stok pakaian bersih yang bisa kupakai untuk nonton parade. Sungguh aku belum pernah ke acara seperti ini. Disana akan ada upacara seremonial, tamu-tamu undangan, pejabat dan ribuan tentara dengan bahu gagah menggoda. Sadar aku tidak terlalu cantik, tidak ingin menarik perhatiaan banyak orang, aku memilih menjadi apa adannya. Menjadi diriku. 

Terlalu sibuk merias diri aku tidak melihat kembali ponselku. Ada satu panggilan tak terjawab disana. Dari supir Grab Hitch  yang kupesan sejak semalam dan baru menghubungiku tepat sepuluh menit sebelum waktu berangkat. Disinilah cerita dimulai. Aku berlari kecil menuruni anak tangga menuju seseorang yang telah menungguku di ujung gang. Tak ingin membuatnya menunggu lebih dari ini. 



Angin pagi menyelinap di balik celah kaca penutup helm yang kukenakan. Kami melesat sangat cepat sampai aku merasa tidak sanggup menahan beban tubuhku sendiri dan bisa sewaktu-waktu terhempas dari motor. Kecepatan mulai menurun ketika kami memasuki kompleks Halim Perdana Kusuma. Kami berhasil melewati penjaga gerbang yang tidak punya seulas senyum pun pada kami pengunjung awam. 

Beberapa petak sawah terhampar dibeberapa sisi kiri kanan jalan. Kadang terlalu kecil sawahnya sampai mengira masih adakah yang bercocok tanam di pinggiran kota seperti ini. 

Letak lapangan yang akan jadi tempat seremoni berada jauh di pusat kompleks. Letaknya dikelilingi oleh jajaran mess, lapangan olahraga dan sekolah-sekolah yang masih ada kaitannya dengan akademi penerbangan. Tidak boleh ada kendaraan yang boleh mendekat selain batas parkir yang sudah disediakan. Perjalanan kulanjutkan dengan jalan kaki. Supir Grab tadi memilih mengantarku lalu pergi tidak tertark untuk ikut menonton. Hanya beberapa puluh meter aku berdebar-debar karena euforia.

Lapangan udara berkilau keperakan ketika aku memasuki gerbang untuk terakhir kali. Mobil-mobil beroda besar berjalan di sebelahku mengangkut personel. Di depan pesawat-pesawat besar militer terparkir menyambut kami.

 Ini kali pertama aku melihat pesawat dari dekat. Mereka begitu besar, dingin dan tua. Satu diantara yang ada memiliki badan bermotif coreng khas tentara bertuliskan indonsian Air Force. Hangar-hangar raksasa bertuliskan Squadron 45 diterangi sinar pagi di puncaknya. Begitu juga dengan hangar disebelahnya, sudah dibuka sejak sebelum pengunjung tiba. Beda dengan Squadron 45 yang sepi karena telah dikosongkan, beberapa hangar lain tampak ramai dengan taruna-taruna muda berseragam putih biru yang sedang berbaris. Mereka tampak seusiaku tapi lebih gagah dan sangar. Aku terpikir apa salah satu dari mereka melihatku ditepi landasan udara sampil menatap kagum salah satu diantara mereka.  

Pukul tujuh langit telah dipenuhi penerbang. Beberapa diantara mereka membawa serta slayer bertuliskan ucapan hari jadi TNI AU ke tujuh puluh satu. Mereka memutari area seremonial hingga beberapa kali. Selama itu juga pengunjung sibuk mengabadikan moment itu dan berfoto ria. Disusul pelepasan sebuah pesawat yang membawa layer bertuliskan moto TNI AU ‘Swa Bhuana Paksa’ dibelakangnya. 

Sebuah aba-aba terdengar dari pengeras suara. Seorang pria bersuara lantang mengisyaratkan seluruh komponen personel memasuki lapangan. Pasukan masuk melalui dua sisi kanan dan kiri penonton. Mereka berjumlah ribuan orang diiringi derap langkah kaki yang sudah tidak asing lagi. Musik yang dimainkan punggawa drum band bertalu senada mengiri derap langkah kaki. 

Seperti semua upacara seremonial militer pada umumnya, diawali dengan oemeriksaan pasukan oleh seseorang yang telah ditunjuk sebelumna. Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Hadi Tjahjanto yang ditunjuk melakukan pemeriksaan itu. Walaupun hanya berupa simbolisasi tapi terasa begitu menegangkan dan serius. Tidak lama acara berlanjut hingga sampailah pada saat membosankan aitu kata sambutan.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kedua kiri) memeriksa pasukan peserta Upacara Peringatan ke-71 Hari TNI AU tahun 2017 di Lanud Halim Perdana Kusuma Jakarta

Tentara Nasional Indonesia terbentuk pertama kali dengan nama Badan Keamanan Rakyat. Ketika sudah waktunya Indonesia memantapkan diri menjadi negara merdeka BKR berubah nama menjadi TNI dengan staff TNI AU pertama Suryadi Suryadharma. Berbekal armada pesawat dan alutista peninggalan Jepang sayap-sayap Indonesia merekah menuju cakrawala. Pemerintah berupaya melindungi keutuhan negara dengan segenap komponen TNI di darat, laut maupun udara. Dan hingga kini armada Angkatan Udara adalah komponen paling efektif untuk menjaga garda terdepan NKRI. 

Setelah kata sambutan yang terasa sangat lama dan penyerahan Tanda Penganugerahan kepada mereka yang disebut, acara berlanjut menuju permainan alat musik dari pasukan drum band dan elang-elang yang kulihat tadi. Penonton di tepi lapangan bergerak maju mendorong kami yang berdiri di baris terdepan. Satu per satu orang-orang yang tidak kuat mundur ke luar baris. Aku tidak menaruh hati untuk menonton pasukan drum band dan memutuskan keluar barisan. Aku menunggu defile[arak-arakan pasukan tempur] dan parade pesawat yang mana itu baru akan ditampilkan di akhir acara. Sambil menunggu aku berkeliling hingga tepi landasan take off pesawat tempur. Disana suara mesin meraung-raung kencang mengiri pesawat yang melesat ke arah barat.

Perlu kalian tahu bahwasanya pasukan TNI AU memiliki banyak fungsi. Tidak hanya sebagai pengangkut transportasi dan pengawas dari angkasa. Armada di udara di persiapkan untuk pertempuran. Walaupun pada kenyataannya tidak ada lagi pertempuran udara macam Agresi Militer Belanda 1 hingga kini, setiap personel dilatih untuk siaga di setiap kondisi buruk yang mungkin akan terjadi. TNI AU telah turut membantu untuk kepentingan kebencanaan di tsunami Aceh, gempa di Sumatera Barat, Wasior, letusan Merapi dan pencarian Sukoi Super Jet 100. TNI juga terlibat saat pemulangan WNI di Malaysia dan kondisi politik Mesir yang sempat meradang beberapa waktu lalu . 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta :

Chapter 3 : Berjalan Layaknya Maba

Chapter 4: Kisahku Di Nalfisosrata