Chapter 2 : Oh, Poor my college!
Sepanjag perjalanan pulang aku masih belum bisa melupakan rangkaian hal yang kulalui hari ini. Sesi wawancara yang kupikir tidak memakan waktu lama justru menyita waktuku terlalu banyak. Aku baru keluar kampus pukul lima sore. Eca menungguku di lobby karena dia yang lebih dulu keluar ruangan. Ia sangat sabar padaku dan teman=temannya itulah yang membuatku senang berteman dengannya.
Kami keluar dengan rasa lapar yang menuntut dipuaskan. Aku menyarankan agar kami makan mie ayam terlebih dulu di kantin samping gedung FIS. Tapi ia menolaknya dan memilih segera pulang. Aku berjalan di sampingnya dengan botol air mineral yang nyaris habis isinya. Langit sore makin gelap dan kami memutuskan naik busway. Aku sudah mewanti-wanti dalam hati bahwa jam seperti ini adalah waktu yang kritis kami tidak akan kebagian busway. Jam pulang kerja yang ramai diikuti deru mobil berhembuskan asap. Kami menyebrang ke salah satu halte dan baru mendapatkan bus setelah menunggu dua puluh meniti. Dilanjutkan perjalanan darat yang memakan waktu hampir satu jam. Bus yang kami naiki merayap seperti semut, tiap senitnya berharga. Halte terakhir telah ami lewati dan pengeras uara mengumumkan kami telah sampai di pemberhentian terakhir Halte Dukuh Atas.
Saat wawancara aku melalui banyak hal, sebagai mahasiswa baru aku bodoh untuk mencatat nomor pendaftaran dari Bagian Administrasi Kemahasiswaan. Baru setelah wawancara tadi aku masuk ke deratan peserta yang belum mengisi web data diri mahasiswa baru. Karena aku tidak mencatat sepuluh digit nomor itu aku bisa dikatakan bodoh dan lalai sebagai mahasiswa. Aku makin membenci diriku sendiri karena kebodohan ini membuatku terancam, membuat diriku makin terlihat lemah padahal aku sudah berusaha untuk tidak mengulangi lagi yang namanya lupa.
Aku sempat bertemu salah seorang senior yang ternyata bendahara di bagian badan Badan Eksekutif Mahasiswa Prodi Pendidikan Geografi. Ia cukup berisi hingga aku bia menyebutnya gemuk. Pipinya bulat dan wajahnya riang saat aku mulai aktif bertanya soal kegiatan perkuliahan. Sayangnya aku tidakq begitu memperhatikan apa yang ia katakan. Begitu banyak istilah tentang organisasi di kampus ini yang tidak kumengerti. Senioir dihadapanku itu memegang secarik kertas yang berisi agenda acara yang disusun oleh mereka anggota BEM Prodi untuk kami mahasiswa baru. Dalam hati aku berpikir baik sekali mereka mau repot-repot menyusun acara sedemikian banyak hanya untuk kami mahasiswa baru. Bahkan aku sendiri malas-malasan hanya untuk datang ke kampus kecil yang gedungnya menguning dan usang, berlubang bekas rembesan air hujan dan toiletnya mengoarkan aroma amis yang kuayakin berasal dari pembuangan mahasiswanya yang bobrok moralnya. Hal paling buruknya dari kampusku ini adalah desain gedungnya yang tidak memungkinkan sinyal provider untuk menembus atapnya. Alhasil selama enam jam aku didalamnya seperti terisolir dengan udara panas berebut dengan mahasiswa lain hanya untuk bisa bernapas.
Ohh .. Maaf aku harus berangkat kuliah dan memunculkan batang hidungku pagi ini. Aku harap kalian bersedia menunggu hinga aku pulang dan menanti kelanjutan ceritaku.
See ya.

Komentar
Posting Komentar