Jomblo Bukan Akhir Dunia





Hujan dua malam yang lalu mengingatkanku pada sesuatu. Bukan, bukan mengingatkanku pada dirimu. Tapi mengingatkanku pada grup Kombun. Komunitas blogger-blogger tambun. Tengah malam hampir, hujan deras menemani bersama secarik hati yang sepi. Jemariku mengetik asal tentang hujan yang membawa kenangan. Gerimis yang jadi kesempatan untuk mengenang. Mengenang apa pun, apa saja selama masih tertinggal di hati akan selalu dikenang. 


Untuk Yudi, mengenang kenangan tidak lepas dari genangan air mata. Bagiku tidak juga, genangan itu telihat tapi bisa juga samar dan nyaris tak tampak. Karena genangannya terpedam di hati dan berkerumun di pikiran sendiri.


Hujan selalu lekat dengan orang-orang yang merindu, orang-orang yang pernah kehilangan, orang-orang yang terbuang.


Di hati Fafa hujan adalah jelmaan Putri Hujan di masa lalunya. Tidak ada yang bisa menggantikan Putri Hujan.  Malam jadi Fafa, siang jadi Ojan. Saat dalam perut ia adalah Fauzan. Putri Hujan yang dulu pernah jadi incaran, pernah jadi segalanya kini hanya jadi kenangan. Fafa masih tetap sendiri bersama bayangan, sementara Putri Hujan mungkin sudah bersama yang lain. Fafa hanya kenangan yang mengikuti dibelakang. Tak pernah dilihat atau diingat lagi. Namanya masa lalu akan selalu ada di belakang. Ia tak pernah menang, masa depan dialah sejatinya pemenang. 


 “Cinta bukan selalu perkara yang menginginkan balasan. Bukan pula perkara keinginan untuk selalu bersama. Lalu cinta itu apa? Mengikhlaskan dan melihat orang lain bahagia. Itu cinta.”


Fenomena jomblo dan kesendiran tidak pernah lekang oleh zaman. Setidaknya dimataku selagi masih ada anak muda, jomblo akan selalu ada. Toh yang biasa membesar-besarkan hal nggak penting jadi hits kan anak muda juga.

Sebenarnya kenapa kesendirian jadi masalah? Karena bagi sebagian besar orang memiliki pasangan adalah sumber utama kebahagiaan. Kalau Cuma sendiri, hidup jadi sepi. Bayangan-bayangan masa lalu dan pikiran kotor menyusupi kalau diri hanya berteman seorang diri. Orang-orang sekitar kadang dalam suatu geng pertemanan mengompor-ngompori ‘Kapan jadian? Sampai kapan digantungin? Nggak bosan sendiri?. Dan pamungkasnya adalah ‘Kapan nikah?’. Nyesek nggak sih kalau orang terdekat membicarakan hal-hal sepele seperti? Apalagi kalau dilakukan secara masif hingga merambah meme di sosial media. Miris sob lama-lama lihatnya.


“Kenapa orang-orang selalu ingin tahu perihal orang lain sudah menikah atau belum, atau punya pacar atau tidak? Apa urusan mereka?’ – dikutip dari My Name Is Kim Sam Soon


Orang-orang seringkali lupa memikirkan kenapa temannya tidak jua ‘berdua’ atau dekat dengan seseorang. Pacaran bukan status resmi, yang resmi dan legal itu pernikahan. Tidak pacaran bukan berarti ditinggalkan zaman toh? Lebih baik orang-orang seperti ini yang hobi mencampuri urusan orang lain urusi saja dirinya sendiri. Seperti tidak ada kegiatan lain yang bisa mereka lakukan, misal berburu klakson telolet.

Seandainya para jomblo dan single di dunia ini bisa bersuara mereka juga ingin mengutarakan perasaannya. Kenapa mereka harus terlahir single? Kenapa mereka bertahan untuk tidak berbagi kasih dan mengikrarkan diri dalam status macam pacaran misalnya.

Pernah terbayang nggak sih jika aliansi Jomblo Se-Indonesia turun ke jalan, demo dan menuntut perbaikan nasib pada pemerintah atas  aksi bully pada mereka yang nggak punya pacar? Bisa jadi jumlah demonstran penuntut penistamaan agama kalah telak dari jumlah para jomblo se-Indonesia. 

Kata Abraham Maslow, kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan yang paling menuntut untuk dipuaskan seperti makan, minum dan buang air. Seks juga termasuk kebutuhan kalau kata Maslow. Diatasnya akan ada lagi kebutuhan yang lain, kebutuhan akan rasa aman dari bahaya atau penyakit. Kalau sudah terpuaskan ada lagi kebutuhan yang nggak kalah penting, kebutuhan akan rasa cinta dan kasih sayang yang bisa didapat dari teman, keluarga dan menjadi anggota dari suatu kelompok (misal komunitas pecinta bus, komunitas sepeda atau pecinta alam).

Selama rasa cinta dan kasih sayang menjadi bagian dari kebutuhan manusia, rasanya fenomena ‘kapan nikah’ dan kegalauan akan kesendirian akan terus ada bahkan menjamur. Di Korea Selatan, rata-rata sebagian besar penduduk yang sudah mapan dan menginjak usia tiga puluh mengalami kesulitan menemukan pasangan hidup. Saking sulitnya hal sepele ini larut jadi depresi dan bunuh diri. Sementara di Jepan dan Jerman pemerintah dibuat kalang kabut dengan masalah ‘jomblo dan kesendiriannya’ pada masyarakatnya. Bagaimana tidak pusing mereka memikirkan nasib kelestarian penduduknya yang tidak mau menikah dan menghasilkan anak. Bayangkan saja hanya karena urusan asmara masyarakatnya saja bisa meluas dan jadi beban pikiran pemerintah negara-negara besar seperti Jerman, Jepang dan Singapura. 

Menjadi single itu suatu kehormatan, Sob. Terhormat di mata agama dan di mata mereka yang paham bahwa sejatinya datangnya jodoh tidak dipaksakan. Tapi lewat penantian dan kesabaran yang panjang. Perbaiki dulu deh diri lo sebelum menjadi pasangan dan bagian dari hati orang lain. Pikirin apa yang membuat diri lo pantas untuk dicintai dan dijadikan sandaran hidup orang lain khususnya pasangan lo kelak.

*tisyvana linh

Komentar

  1. Padahal pacaran itu engga selalu bikin bahagia. Pacaran itu menbagi kebahagiaan si. :p

    BalasHapus
  2. Gue ketawa bacanya. Blogger2 tambun. 😂😂😂😂😂😂😂😂

    Shuee.... hahahaha.....


    Keren, sih, tapi, apa ya, t.o.p deh artikelnya. Hehehe... semangattttt nulisss....

    BalasHapus
  3. Mau single ataupun double (halah hahaha) sejatinya gak ada hubungannya dengan terhormat atau enggak. Tergantung pribadinya masing-masing dalam menjalani hidupnya seperti apa. Asal positif, mau bagaimanapun status hubungannya, dia akan tetap terhormat.

    BalasHapus
  4. Seandainya jomblo se-Indonesia benar-benar melakukan demonstrasi ya kak, aku ikut #loh
    Keren, twisted banget artikelnya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta :

Chapter 3 : Berjalan Layaknya Maba

Chapter 4: Kisahku Di Nalfisosrata