Dawai Besi dan Putri Berhati Es: Bab 1

Sore hari menjelang malam tahun baru, aku mengemasi pakaian untuk liburan singkat. Ini hanya perjalanan menuju rumah orang tuaku yang terletak di pinggiran kota. Hanya membutuhkan waktu tiga jam dan aku akan disambut dengan rumah hangat layaknya rumah jahe. Suasana hangat yang tidak aku dapatkan di kamar kosan yang berukuran tidak lebih dari sekat wartel SLJJ.

Awan-awan putih di selatan tempat bus ku memacu rodanya memancarkan kilau putih. Petak keperakan yang menuntun menuju jalan cahaya ke surga .Matahari menyembul dibaliknya malu-malu. Bus keluaran Swiss bergetar tiap kali sopir menginjak pedal gas. Dengungnya merambat hingga ke kepala. Menina bobokan agar penumpang lebih rileks di jalanan ibu kota. Ini akan jadi perjalanan yang panjang.

Aku turun ketika bus ini sampai di permberhentian terakhir. Pintu terbuka bersamaan dengan bunyi desis panjang. Ez kering mengepul disampingnya diiringi suara langkah kaki penumpang turun. Derap langkah yang lambat meniti jembatan penyebrangan yang membawa kami ke dunia yang baru. Penumpang itu berganti menuju koridor diseberangnya. Jembatan penghubung antar koridor itu sudah mengabdi selama lebih dari satu dekade. berdiri kokoh sejak jaman gubernur kesekian yang mencetuskan ide pembangunan jalur busway di sepanjang kota. Patung pria berjubah kelabu dengan satu tangan memberikan tanda hormat khas pejuang kemerdekaan. Dia jadi saksi bisu kota ini bertumbuh dan meninggalkannya.

Halte persinggahan itu terlihat cukup ramai namun tidak seriuh hari biasa. Tidak ada yang ingin keluar di hari Sabtu cerah di malam tahun baru. Ruas jalur bus tampak sepi ketimbang jalur disebelahnya yang padat. Penumpang yang satu jurusan denganku menunggu dalam diam. Penantian itu terasa panjang menunggu roda bergulir pelan diiringi suara decit pendek. Pintu terbuka kaki merayap naik. Tidak ada kursi kosong disitu. Perempuan dan laki-laki terpisah. Setidaknya jika ingin duduk berjalanlah sedikit menuju kursi pria di belakang. Aku merapatkan diri ke sisi pintu yang kuyakini tidak akan membuka dan menutup jika bersandar di sisinya.

Penumpang berpegangan tiap kali bus berguncang akibat jalanan yang rusak. Suara dentum dentum halus bergema sesekali. Jalan di kota ini memang tidak bagus. Dua mega proyek yang sedang dijalankan pemerintah merenggut kenyamanan masyarakat kota .Hari hari dilalui dengan bayang kehidupan kelam ditengah kepulan debu dan asap buangan kendaraan .

Aku membetulkan sekali lagi masker yang merosot dari hidungku. Penumpang mulai berkurang hingga menyisakan satu tempat duduk di barisan tengah. Penumpang lain sudah mendapatkan kursi itu saat aku baru saja melihatnya.

Aku berlari kecil menuruni tangga terminal bawah tanah. Aku merasa tidak perlu terburu-buru mengejar bus berikutnya. Tapi aku merasa sesuatu mendorongku untuk berlari lebih cepat. Aku berbelok di tengah pusat perbelanjaan yang berada tepat dibawah terminal. Penjaga toko yang menatap pengunjung hilir mudik di depannya. Memutar musik koplo yang tidak kukenal siapa penciptanya. Setiap toko memutar musik yang berbeda. Aku berjalan tanpa tertarik melihat apa yang mereka jual. Berlalu begitu saja bersama tawa cekikan pegawai toko yang genit.

Aku mengikuti arah papan tanda pintu masuk sebelah timur. Meniti beberapa anak tangga ke atas yang membawaku naik kembali ke permukaan. Sudah tidak terdengar lagi desah wanita di kursi pijat refleksi yang kulalui tadi Desah napas itu mengingatkanku pada masa lalu yang erotis. Aku tidak ingin mengingat itu sekarang.

Aku merapatkan kardigan yang  kukenakan ke menutupi dada. Sejak kecil tubuhku rapuh setipis es. Sedikit tiupan angin akan memporak-porandakan pertahananku. Menerbangkan aku seringan sehelai bulu.

Jalan yang kuambil diapit oleh deretan toko dan bank. Kepulan asap putih menebar aroma harum keseluruh jalan. Kedai mie itu baru buka beberapa waktu lalu tapi langsung dihampiri pengunjung yang lapar. Aku lapar namun tidak ada uang yang tersisa untukku sore itu. Koin yang tersisa di kantungku hanya cukup untuk perjalanan sekali waktu sore itu. Dan sedikit sisanya akan kuberi untuk mereka yang melantunkan lagu untukku.

Jalan setapak yang yang kulalui berhenti di muka terminal yang ramai. Lebih banyak bus berkumpul disana. Dan ada lebih banyak orang lagi yang kulihat. Beberapa berdiri menunggu di tepi trotoar yang kotor. Kebanyakan diantara mereka adalah pengamen dan penjaja tisu yang bersiap naik ketika bus-bus itu mulai berangkat. Satu per satu bus meninggalkan armada. Diikuti asap kehitaman yang membuatmu menumpahkan kembali isi makan siangmu tiap kali menghirupnya. Aku terus berjalan menunduk menghindari kepulan asap. Berjalan terus menuju bus yang berangkat paling cepat menuju Ciledug.

Aku naik dari pintu belakang mengamati kursi kosong yang tersisa. Ada satu di dekat pintu depan. Akan lebih mudah jika aku masuk lewat pintu depan tapi pria itu menghalangi pintu masuk. Tas kutaruh dipangkuan dan membenarkan posisi duduk yang sempit. Pria itu tampak samar dengan kacamata yang dikenakannya. Ia tidak lagi menghalangi pintu tapi tidak juga beranjak dari saba. Ia akan bernyanyi seperti teman-teman satu profesinya. Kemeja merah maroon nya di kancing hingga paling atas. Ia semakin tampak tidak lebih dari pria culun yang habis bercukur. Kacamata menggantung di hidungnya yang tidak biasa. Kilau tipis menyertai ketika ia menaikkan dagu mengucap salam. Hatiku berdesir ketika ia menatapku. Kunci pertama telah dimainkan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta :

Chapter 3 : Berjalan Layaknya Maba

Chapter 4: Kisahku Di Nalfisosrata