Chapter 5 : Missing you
Aku pernah sangat mengagumi seseorang dari kakak seniorku. Kami hanya bertemu sesekali di kampus. Tapi dia mentorku dan teman-teman satu tim di Nalfisosrata. Selama ia menjadi mentor untuk kami aku bisa berjuta kali menatapnya. Tidak terhitung berapa ratus menit aku habiskan untuk mencuri pandang padanya. Ia begitu manis dengan kulitnya yang gelap dan kuakui tidak mulus. Dikatakan tampan itu pun tidak sama sekali. Ia sangat suka mencairkan suasana dengan menggoda 'Pak Dekan Jr' ketika kami sedang duduk melingkar. Aku selalu kebagaian bersebrangan persis denganya. Hal itu memudahkan aku untuk menatapnya. Tapi entahlah, tidak ada yang menyadari aku memendam rasa.
Akan kuberi tahu padamu satu hal, aku tak mungkin menyebut namanya langsung disini. Terlalu terlihat. Ia punya nama yang sama dengan belakang asliku dan ayahku. Sesuatu yang tidak mengherankan karena nama itu cukup banyak dikenal dan dipakai. Irfan, itulah aku memanggilnya. Kalian juga boleh memanggilnya begitu akan lebih menyenangkan jika kamu tambahkan 'Kak' di depannya. Ia pasti akan menoleh dan disusul dengan cengiran khasnya. Sunggu, aku baru tersadar dibalik kekurangan fisik dan wajah pas-pasan itu ia sangat menggemaskan dan penyayang.
Diantara mentor lain, Ka Irfan adalah satu dari mentor laki-laki terbaik yang dipunya di Geografi. Ia paling sering muncul di grup dan menyapa kami. Agak jahat sebenarnya saat kami telah membuat grup Line namun selalu sepi dan tidak ada yang membuka obrolan lebih dulu. Grup itu dimaksudkan agar kami dan mentor kami bisa lebih intens berkomunikasi dan bersiap untuk membekali diri saat Nalfisos dan Pelatihan Kepemimpinan nanti. Dan saat tidak ada sesuatu pun untuk dibahas Ka Irfan yang lebih dulu menyapa kami. Aku terharu tiap kali melihat usahanya untuk mengumpulkan kami dan mengetahui kondisi kami setiap malamnya.
Jika boleh membandingkan, diantara kesembilan aggota timku hanya aku yang paling berusaha mendapatkan perhatian Ka Irfan. Agak bertentangan dengan nasihat bapak dan ibuku, bahwasanya tanpa berusaha terlalu keras aku akan mendapatkan perhatian itu nanti ketika aku menunjukkan prestasiku. Tapi aku tidak tahu prestasi apa yang kumiliki untuk ditunjukkan pada Ka Irfan. Aku selalu menyempatkan hadir kalau ia mengajak kumpul temu. Aku bertanya seperlunya, menyimak cerita yang ia bagi pada kami dan ikut tertawa bersama. Aku terbiasa melihatnya dan selalu berharap akan bertemu dan membuka obrolan bersamanya. Secara pribadi lebih dari seorang adik mengadu pada kakaknya.
Di suatu malam di harI Minggu aku mendapati belum sampai di mass ku padahal hari sudah pukul sembilan malam. Aku habiskan waktu di toko buku setelah pulang kampus hingga lupa waktu. Aku dengan mudahnya memberi tahu kabarku pada teman-teman di grup Line ku bahwa aku belum pulang dan masih menunggu bis terakhir Trans Jakarta. Sudah tiga puluh menit aku pikir tidak ada yang merespon atau pedulu dengan kabar keberadaanku. Aku sedikit sedih karena kupikir ada setidaknya yang menannyai kabar dan dimana posisiku saat itu. Selang beberapa menit yang tertasa panjang ponselku bergetar, sebuah pesan pribadi masuk.
Itu pesan dari Ka Irfan, ia memanggilku 'dek' dan dadaku bergetar. Ia menanyai letak posisiku saat itu dan menanyakan masih adakah armada bis yang tersisa untuk mengantarku pulang. Aku mendiamkan pesan itu cukup lama meninggalkan tanda read di ponselnya. Aku mendiamkannya sambil menimbang apakah aku pesan ojek online saja agar cepat sampai. AKu mencoba pesan ojek hingga beberapa kali tapi hasil nihil. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh dan muncul satu pesan baru lagi. Dari Ka Irfan, belum bosan kudiamkan dia lagi Lalu masuk pesan lagi darinya. Di pesan terakhir aku bisa merasakan nada khawatir dari isi pesannya. Tidak lama sebelum aku membalas bis untukku datang, Aku melangkah masuk dan baru mengabari bahwa aku sudah mendapat tempat duduk bersiap pulang.
Aku tiba di jalan menuju mass ku dan melangkah gontai. Aku mengabarinya aku sudah pulang. Ia mengucap syukur bahwa aku tiba dengan selamat. Setelah malam itu ia tidak pernah memulai chat apapun denganku. Hanya kenangan aku pulang malam itu saja ia memulai percakapan. Aku masih bertanya-tanya mengapa ia tak mau lagi bicara atau memulai menyapaku duluan. Baik di kampus atau di Line. Padahal untuk wanita, paling suka disapa duluan dan didekati lebih dulu. Setelah kejadian malam itu justru akulah yang selalu menyapa duluan, tersenyum dan memanggil namanya lebih dulu. Selalu aku, bahkan sudah depalapan bulan berlalu tak pernah kulihat dia menghubungi atau mencoba mendekatiku. Ia mendiamkanku seolah aku ini hanya botol sampah yang bau. Tak didekati dan tak juga digubris padahal aku jelas di depannya.
Aku tak pernah berhasil mendapatkan jawaban mengapa ia mendiamkanku seperti itu. Menjauh dan sebisa mungkin tidak berinteraksi denganku itulah yang ia lakukan. Sungguh aku tidak menggigit atau mencoba mengorek rahasia dalam dirinya. Aku hanya tak bisa terima dengan sikapnya yang begitu cuek padaku. Aku nggak bisa diginiin, Kak. Setidaknya bilang apa salahku dan alasanmu menjauh. Aku menyukaimu, Kak. Dan tepat ketika aku membuka hati, yang kudapati kau malah menutup diri dan menarik sifat penyayangmu.
Kudapati kini ia sudah tidak di BEM lagi dan semakin jauh dariku. Sulit untuk menemuinya dan membuka pembicaraan berdua. Aku tak mungkin masuk kedalam geng nya. Aku terlalu naif dan juga terlalu taku untuk mengambil risiko menunjukkan keberadaanku di depan teman-teman. Aku takut orang lain bisa merasakan perasaanku yang sebenarnya lebih dulu sebelum aku mengutarakan.
Apa artinya Ka Irfan tidak menganggapku lebih dari sebatas adik? Apa kisah cinta ini hanya embun yang datang lalu diuapkan kembali? Aku ingin kisah cintaku berakhir bahagia.

Komentar
Posting Komentar