Kegundahan Hati Blogger Buku, Masihkah Blogger Dibutuhkan?
Aku menyenangi berlatih menulis sama seperti aku menyenangi
proses meriset. Rise tapa saja, semua
dibaca, berita disimak namun kadang aku merasa tidak terlalu peduli dengan
berita politik. Aku memandang sekitarku ketika orang-orang sibuk dengan gawai
berselancar dalam dunia maya. Masihkah mereka membaca tulisan para blogger?
"Masihkah orang membaca blog dan website?"
Pertanyaan ini merujuk pada titik masalah masih diperlukankah blogger itu?
Khususnya mereka yang merupakan blogger buku.
Menurutku pribadi, tulisan yang dimuat di blog lebih
berbobot dan kekal selama internet masih berjalan. Google lebih responsif pada
pencarian antar blog dan website. Menurutku mereka yang membaca Instagram hanya
kalangan pemalas yang tak ingin susah payah membuang kuota mencari via Google. Otak
mereka lebih terfokus pada visual yang membutakan di Instagram ketimbang
kumpulan paragraf yang dianggap sebagian pembaca muda sebagai kegiatan
membosankan.
Tulisan di blog dan website akan kekal abadi selama
orang-orang masih memnggunakan search engine pada ponselnya. Membaca via blog
lebih terperinci, efisien dan fleksibel. Kebiasaan ini dimiliki bagi
orang-orang yang haus akan informasi terkini, rajin membaca, rajin
membandingkan dan tidak mudah puas serta skeptis pada satu argumen saja. Sementara
Instagram adalah musuh bodoh yang membodohi manusia dengan tipuan visual dan argument
subjektif yang telah dimodifikasi untuk tujuan-tujuan pemostingnya.
Komentar
Posting Komentar